
Terima kasih telah berbagi informasi. Wira Mulya Farm menyediakan sapi dan domba untuk kebutuhan aqiqah...
terimakasih pak MUH ABDUL GHAFUR telah mengakses web desa tirtanadi ini sehingga mudah untuk mendapatkan...
Mendaftar sebagai perangkat desa atau kepala wilayah dusun tirpas...
TIRTANADI, LOMBOK TIMUR – Selasa, 20 Januari 2026.
Senyum masam terlihat di wajah para petani di Desa Tirtanadi, Kecamatan Labuhan Haji, Kabupaten Lombok Timur. Di tengah musim panen kali ini, mereka justru harus menelan pil pahit akibat merosotnya harga cabai merah kecil (cabai rawit) yang tidak sebanding dengan biaya keringat yang dikeluarkan.
Sejak awal pekan ini, harga jual cabai merah kecil di tingkat petani Tirtanadi dilaporkan menyentuh angka Rp20.000 - Rp25.000 per kilogram. Harga ini dianggap sangat memprihatinkan karena berada jauh di bawah nilai ideal yang seharusnya berkisar Rp30.000 ke atas untuk mencapai titik impas atau Break Even Point (BEP).
Dilema Biaya Produksi: "Besar Pasak daripada Tiang"
Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa biaya perawatan cabai saat ini sedang berada di puncaknya. Petani di Labuhan Haji menghadapi tiga kendala utama yang mencekik:
* Ketergantungan Pupuk Non-Subsidi: Sulitnya akses dan terbatasnya kuota pupuk subsidi memaksa petani merogoh kocek lebih dalam untuk membeli pupuk nonsubsidi agar tanaman tetap produktif.
Mahalnya Obat-obatan: Serangan hama yang meningkat di cuaca yang tidak menentu mengharuskan petani menggunakan pestisida dan fungisida bermerek yang harganya terus melambung tinggi di toko pertanian setempat.
Upah Buruh Petik:
Biaya operasional harian untuk tenaga petik tetap stabil tinggi, sementara nilai komoditas yang dipetik justru terjun bebas.
Ancaman Kerugian Massal
Beberapa petani di Desa Tirtanadi mengaku mulai putus asa. Dengan harga yang ada sekarang, pendapatan dari hasil panen seringkali habis hanya untuk membayar buruh petik dan transportasi, tanpa menyisakan modal untuk musim tanam berikutnya.
Kami seperti kerja bakti. Uang hasil jual cabai habis untuk beli obat (pestisida) dan bayar orang metik saja. Kalau begini terus, kami tidak punya modal lagi untuk tanam bulan depan," keluh seorang petani setempat.
Para petani di Kecamatan Labuhan Haji berharap adanya perhatian dari Dinas Pertanian Lombok Timur untuk setidaknya membantu stabilitas harga atau memberikan bantuan berupa bibit dan obat-obatan guna meringankan beban produksi yang kian tidak masuk akal.


























